3 Keluarga Diusir Dari Kontrakan Karena Beda Pilihan Pilkada

3 Keluarga Diusir Dari Kontrakan Karena Beda Pilihan Pilkada, Kondisi menghangat tidak cuma dirasa oleh beberapa calon, tetapi warga. Karena hanya berlainan pendapat, 3 Kepala Keluarga (KK) ditendang dari rumah kontrakannya di Kandang Aur, Kelurahan Simpang Rumbio, Kecamatan Lubuk Sikarah, Kota Solok, Sabtu (5/12) malam.

Naasnya, ke 3 keluarga itu hanya diberi waktu 2 hari untuk berpindah, bila tidak menghiraukan karena itu diintimidasi dibedah.

“Kami dikunjungi oleh pemilik bangunan tempat tinggal, dia menjelaskan jika kami tidak berpindah dalam 2 hari bangunan akan dibedah oleh sang pemilik tanah. Faktanya hanya beda pendapat (memberi dukungan Paslon). Saya korban politik, karena hanya ketidaksamaan pendapat saja,” kata Misriyanto salah seorang penghuni rumah kontrak yang ditendang itu, Minggu (6/12).

Ia menerangkan, kecuali dia dan keluarganya yang diminta berpindah, ada dua keluarga yang lain memperoleh tindakan sama hanya karena pilih calon lain.

“Jika saya pilih Paslon yang sama dengannya (pemilik tanah) Insya Allah kami tidak ditendang. Tetapi ini kami sebab berlainan, dari 3 keluarga ini ada yang koordinator sukarelawan, itu kami pada nomor 2. Walau sebenarnya jatuh termin kami bayar masih lama, tetangga saya yang satu kembali aman, tidak ditendang sebab KTP nya Kabupaten (beda hak pilih), jadi ia aman,” kata Misriyanto.

Sepanjang 3 tahun tinggal di dalam rumah itu, diakuinya tak pernah mempunyai permasalahan dengan pemilik tanah. Bahkan juga, ucapnya, dia hanya bermasalah dengan pemilik bangunan, dalam soal sewa sewa rumah kontrak itu.

“Saya saja tidak mengenal dengan pemilik tanah itu, saya hanya tahu sang pemilik bangunan. Pemilik tanah dan pemilik bangunan ini kan berlainan, menjadi pemilik bangunan ini sewa tanah dan membuat rumah kontrak, jadi kami sewa rumah ke pemilik bangunan,” terangnya.

Ia menerangkan jika semenjak awalnya ada komunikasi yang bagus untuk meminta berpindah, ia juga akui tulus untuk cari kontar lain.

“Jika dikatakan ke kami dengan baik, kemungkinan belum mengetahui jadi saya akan pilih siapa. Kami sadar diri kami hanya kontrak disini, tetapi sengan seperti ginikan jadi tidak baik,” kata Misriyanto.

Disamping itu, diakuinya siap dengan semua resikonya, walau ia juga berasa cemas adanya peluang teror pada keluarganya.

“Saya percaya kelak akan ada yang ingin cari Saya. Tetapi saya siap asal tidak sampai mengganggu anak dan istri. Karena istri sedang hamil jadi jika dia banyak pikiran turut berpengaruh pada calon bayinya,” ucapnya.

Sekarang ini, Misriyanto sendiri sudah memperoleh kontribusi rumah kontrak lain, terhitung untuk dua tetangganya yang ditendang itu.

Alhamdulillah kami ada yang tolong menemukan rumah lainnya, wlaup tidak akan bersisihan atau tetanggaan kembali karena rumah yang kami bisa ini berbeda-beda posisi. Yang perlu ada rumah, sebab sebgaian besar pekerjaan kami di sini hanya pedagang, ada pula yang sembarangan,” terangnya.

Saat itu, ketua RT di tempat Yurizal benarkan bila ada tiga keluarga yang berpindah dari rumah ke daerahnya itu. Tetapi, Yurizal sendiri tidak mengenali secara detil pemicu keluarga itu berpindah.

“Yang Saya kenali mereka benar-benar berpindah, desas desusnya yang saya dengar permasalahan Pemilihan kepala daerah,” kata Yurizal.

KPU Medan Tidak Layani Hak Pilih Pasien Covid-19 Kategori Berat

KPU Medan Tidak Layani Hak Pilih Pasien Covid-19 Kategori Berat, Pasien Covid-19 tetap dilayani hak pilihnya pada Pemilihan kepala daerah serempak 9 Desember kedepan. Tetapi peraturan ini peluang tidak berlaku untuk pasien dengan kelompok berat.

Komisioner Komisi Penyeleksian Umum (KPU) kota Medan, Rinaldi Khair, menjelaskan, peraturan itu didasari pada hasil pertemuan pengaturan yang mereka kerjakan bersama Satuan tugas Covid-19 Medan dan beberapa rumah sakit referensi Covid-19.

“Sama persetujuan kita tempo hari, spesial untuk pasien Covid-19 tingkat berat tidak dapat dilayani. Yang paling berkesempatan dilayani ialah yang dengan status enteng ke sedang,” kata Rinaldi.

Servis kepala pasien Covid-19 akan diberi petugas KPPS paling dekat tempat dimana pemilih ada atau dirawat. Saat sebelum dapat dilayani, pasien harus memiliki surat berpindah pilih atau formulir A5 yang diurusi family atau keluarganya. Dokumen itu dapat diurusi dikantor KPU Medan.

“Jika telah kantongi A5 karena itu kita akan bekerjasama dengan rumah sakit bertanya pasien apa dapat dilayani. Kelompoknya seperti apakah. Jika faksi rumah sakit ucapkan dapat, akan dilayani start pukul 12.00 sampai jam 13.00 WIB,” jelasnya.

Ia menjelaskan, di tiap TPS telah disiapkan pakaian hazmat, dan perlindungan diri, yang dapat dipakai untuk layani pemilih yang lagi diisolasi. “Pemilih yang dilayani ialah pemilih yang sudah melapor lewat family atau keluarganya,” terang Rinaldi

Sistem pengambilan suara untuk pasien atau masyarakat yang diisolasi diulas dalam pengaturan bersama satuan tugas Covid-19 dan rumah sakit tempo hari. Bila hanya ada seseorang pasien, petugas KPPS akan menghampirinya. Jika kondisinya masih rawan, karena itu servis akan diwakilkan perawat.

“Jika misalkan pemilihnya banyak, karena itu ada pilihan dalam pengkajian. Faksi RS akan mempersiapkan spesial, apa ruangan terbuka spesial, yang tempatnya pantas untuk dipakai pemilih salurkan hak pilihnya,” tutup Rinaldi.

Seperti dikabarkan, Pemilihan kepala daerah Kota Medan hanya dituruti dua pasang calon. Pasangan nomor urut 1, Akhyar Nasution-Salman Alfarisi, digotong PKS dan Partai Demokrat. Partai pengusung ini hanya mempunyai 11 bangku di DPRD Kota Medan.

Sesaat pasangan nomor urut 2, Bobby Nasution-Aulia Rachman digotong konsolidasi 8 partai yang kuasai 39 bangku di DPRD Kota Medan, yaitu PDIP, Partai Gerindra, Golkar, Nasdem, Hanura PAN, PSI dan PPP.

Akhyar awalnya memegang Wakil Wali Kota/Plt Wali Kota Medan. Sesaat Bobby diketahui selaku menantu Presiden Joko Widodo.