Donald Trump Pecat Seorang Petinggi Keamanan Sebab Sangkal Ada Manipulasi Pilpres

Donald Trump Pecat Seorang Petinggi Keamanan Sebab Sangkal Ada Manipulasi Pilpres, Presiden AS, Donald Trump mengeluarkan petinggi Departemen Keamanan Dalam Negeri yang menampik claim-nya berkaitan manipulasi pemilih yang semakin makin tambah meluas dalam pilpres awalnya November kemarin.

Trump umumkan pemberhentian itu di Twitter pada Selasa, menjelaskan ia mengeluarkan Direktur Agen Keamanan Cyber dan Keamanan Infrastruktur, Chris Krebs, dan langsung menyangkutkannya ke pengakuan Kreb yang menjelaskan “tidak ada bukti mekanisme penyeleksian apa saja meniadakan atau hilangkan suara, mengganti suara”.

“Pengakuan terkini dari Chris Krebs berkaitan keamanan Pemilu 2020 benar-benar tidak tepat, di mana terdapat ketidakwajaran dan manipulasi masif,” kicau Trump di Twitter saat sebelum mengulang-ulang bermacam konspirasi teori tidak berdasark berkaitan penyeleksian.

“Oleh karenanya, Chris Krebs sudah dihentikan selaku Direktur Agen Keamanan Cyber dan Keamanan Infrastruktur,” sambungnya. Trump ditaklukkan Joe Biden dari Demokrat pada pilpres 3 November. Tetapi hingga saat ini Trump belum ingin berserah dan mengaku kalahnya.

Mendekati penyeleksian, Krebs sering secara sembunyi-sembunyi menentang claim salah yang terus-terusan dilemparkan Trump berkaitan manipulasi surat suara yang dikirimkan melalui pos.

Terakhir, Krebs secara teratur mengupload di Twitter menyentuh claim Trump itu dengan mengikutkan kontrol bukti dari claim dan teori konspirasi yang dilemparkan Trump, konsolidasi dan pendukungnya.

Menurut agen yang dipegang Krebs, lawan asing tidak bisa memengaruhi suara dalam penyeleksian dan Pemilu 2020 ialah “pemilu paling aman dalam riwayat Amerika”.

Pada Selasa pagi, Krebs sampaikan di Twitter, claim kecurangan mekanisme penyeleksian tidak berdasarkan atau secara tehnis tidak koheren. Ia mencuplik satu surat yang diberi tanda tangan 59 ahli pemilu yang menjelaskan “siapa saja yang mengatakan jika pemilu AS ‘dicurangi’ membuat claim yang mengagumkan” dan mengatakan selaku “pengakuan yang mencemaskan”.

Makna Kemenangan Joe Biden Untuk Dunia

Makna Kemenangan Joe Biden Untuk Dunia, Selama saat empat tahun Donald Trump memegang selaku Presiden Amerika Serikat (AS), jalinan AS dengan dunia berbeda cukup mencolok. Sekarang, sesudah kemenangan Joe Biden, diprediksikan jalinan AS dengan beberapa negara akan berbeda. Diambil dari situs BBC, berikut makna kemenangan Joe Biden untuk beberapa negara di dunia:

China

Jalinan AS dengan China lebih buruk dalam beberapa bulan akhir sesudah Trump mempersalahkan China atas wabah virus corona.

Beberapa riset memiliki pendapat pimpinan China saat ini kemungkinan sembunyi-sembunyi berasa sedih atas kemenangan Biden. Bukan lantaran mereka mencintai Trump, tapi sebab empat tahun kembali ia di Gedung Putih, dampak AS akan menurun. Mengadu domba dalam negeri, terisolasi di luar negeri – untuk Beijing, Trump nampaknya adalah perwujudan yang sudah lama ditunggukan serta diinginkan akan pengurangan kemampuan AS.

China kemungkinan coba cari keuntungan dalam Kemenangan Joe Biden untuk bekerja bersama dalam permasalahan besar seperti perombakan cuaca. Tapi ia janji untuk membenahi koalisi Amerika, yang kemungkinan bisa dibuktikan semakin lebih efisien dalam batasi tekad negara adidaya China dibanding pendekatan Trump sendiri.

Serta kemenangan Biden tawarkan rintangan lain untuk metode China yang tidak mempunyai kendalian demokratis. Jauh dari pengurangan nilai-nilai Amerika, pengalihan kekuasaan tersebut ialah bukti jika nilai-nilai itu bertahan.

India

India sudah lama jadi partner penting untuk AS, serta hari esok jalinan India serta AS diprediksikan tidak banyak berbeda. India tetap jadi sekutu penting dalam taktik Indo-Pasifik Amerika untuk batasi kebangunan China, serta dalam melawan terorisme global.

Kabarnya, chemistry individu di antara Biden serta Pertama Menteri India Narendra Modi dapat lebih susah diprediksikan. Trump mengendalikan diri tidak untuk mengomentari peraturan lokal polemis Modi – yang menurut beberapa orang mendiskriminasi Muslim di negara itu.

Sesaat Biden semakin lebih terang-terangan. Situs kampanyenya mengatakan pemulihan hak untuk seluruh orang di Kashmir, serta mengomentari Daftar Masyarakat Nasional (NRC) serta Undang-Undang Amandemen Kewarganegaraan (CAA) dua undang-undang yang memacu protes massal. Wakil Presiden dipilih Kamala Harris mempunyai darah India, yang melawan beberapa peraturan pemerintahan nasionalis Hindu.

Korea Utara

Peluang Kim Jong-un cenderung pilih Trump memegang empat tahun kembali. Ke-2 nya sempat berjumpa 2x, tatap muka dua pimpinan negara yang tidak pernah berlangsung awalnya. Tetapi tatap muka monumental itu tidak dibarengi hasil berarti.

Tidak ada faksi yang memperoleh apa yang mereka harapkan dari pembicaraan ini: Korea Utara lagi membuat persenjataan nuklirnya serta AS lagi menetapkan sangsi keras.

Kebalikannya, Joe Biden tuntut Korea Utara memperlihatkan kesediaannya untuk tinggalkan program senjata nuklirnya saat sebelum ia melangsungkan tatap muka dengan Kim Jong Un. Banyak riset yakin jika terkecuali team Biden mengawali perbincangan dengan Pyongyang sejak awal kali, menghangatnya jalinan ke-2 negara dapat kembali lagi berlangsung.

Kim kemungkinan pengin mengundang perhatian Washington dengan kembali lagi lakukan eksperimen rudal jarak jauh, tapi ia tidak mau tingkatkan kemelut supaya tidak terserang sangsi yang lebih berat kembali.

Korea Selatan sudah mengingatkan Korea Utara tidak untuk ambil jalan provokatif. Seoul kemungkinan terkadang kesusahan untuk bermasalah dengan Donald Trump – tapi Presiden Moon ingin akhiri perang 70 tahun di semenanjung Korea serta ia beri pujian Trump sebab mempunyai “keberanian” untuk berjumpa dengan Kim. Korea Selatan akan memantau dengan jeli tiap sinyal jika Biden siap lakukan hal sama.

Inggris

Mereka tidak nampak selaku sekutu alami: Joe Biden, Demokrat eksper, serta Boris Johnson, Brexiteer yang berlebihan.

Dalam menyaksikan bagaimana jalinan hari esok ke-2 pimpinan dapat berjalan, sebaiknya menimbang masa lampau. Terutamanya pada 2016, saat Trump benar-benar pemilihan presiden serta Inggris pilih untuk tinggalkan UE. Baik Joe Biden serta bosnya waktu itu, Barack Obama, tidak rahasiakan jika mereka lebih senang hasil lainnya di Brexit.

Manuver pemerintahan Inggris belakangan ini berkenaan dengan Brexit tidak berjalan baik dengan beberapa simpatisan penting Demokrat serta lobi Irlandia, terhitung presiden dipilih AS. Biden menjelaskan ia tidak biarkan perdamaian di Irlandia Utara jadi “korban Brexit” bila dipilih – mengatakan jika tiap persetujuan perdagangan AS-Inggris di hari esok akan tergantung pada penghormatan pada Kesepakatan Jumat Agung.

Trump sempat menyebutkan Boris Johnson “Britain Trump”. Biden nampaknya setuju, sempat disampaikan memvisualisasikan Johnson selaku “tiruan fisik serta emosional” Trump. Jadi mungkin Joe Biden awalannya lebih semangat untuk bicara dengan Brussel, Berlin atau Paris dibanding London. “Jalinan spesial” ini kemungkinan akan alami pengurangan rangking.

Tetapi, ke-2 pimpinan ini kemungkinan belum mendapati kecocokan. Ke-2 negara yang mereka memimpin, bagaimanapun, mempunyai jalinan diplomatik yang telah berjalan lama serta dalam – tidak kecuali di bagian keamanan serta intelijen.

Rusia

Joe Biden belakangan ini menyebutkan Rusia selaku “teror paling besar” untuk Amerika, yang didengar jelas dan keras di Moskow.

Kremlin mempunyai daya ingat yang panjang. Pada 2011, Wakil Presiden Biden disampaikan menjelaskan bila ia ialah Vladimir Putin, ia tidak mencalonkan diri kembali selaku presiden: itu akan berpengaruh jelek untuk negara serta dirinya. Presiden Putin tidak lupakan itu.

Biden serta Putin bukan pasangan yang pas di surga geo-politik. Moskow cemas kepresidenan Biden akan bermakna semakin banyak desakan serta lebih banyak sangsi dari Washington.

Beberapa pemerhati Rusia memprediksi pemerintah Biden, minimal, semakin lebih bisa diprediksikan dibanding Trump. Ini kemungkinan membuat lebih gampang untuk capai persetujuan mengenai beberapa masalah menekan, seperti New Start – kesepakatan penting pengurangan senjata nuklir AS-Rusia yang akan usai Februari kedepan.

Moskow pengin keluar dari zaman Trump serta coba membuat jalinan kerja dengan Gedung Putih yang baru. Tetapi tidak ada agunan berhasil.

Jerman

Jerman akan menghela napas lega berdasar hasil ini. Cuman 10 % orang Jerman yang memercayai Presiden Trump pada peraturan luar negeri, menurut Pew Research Center. Presiden Trump ditunjuk merongrong perdagangan bebas serta membedah lembaga multinasional yang dihandalkan Jerman secara ekonomi.

Perseteruannya dengan China sudah mengguncangkan exportir Jerman serta Trump mempunyai jalinan yang buruk sekali dengan Peluangelir Angela Merkel. Politisi serta pemilih Jerman dikejuti oleh stylenya yang kasar, pendekatannya yang tidak konservatif pada bukti, serta biasanya menyerbu industri mobil Jerman.

Meski begitu, AS ialah partner dagang paling besar Jerman serta jalinan transatlantik penting untuk keamanan Eropa. Ketidaksamaan peraturan penting di antara Washington serta Berlin tidak raib di bawah kepresidenan Biden. Tapi Berlin mengharap bisa bekerja dengan presiden yang menghargakan kerja sama multilateral.

Iran

Beberapa minggu saat sebelum pemilihan presiden, Presiden Trump menjelaskan dengan cukup percaya diri jika demikian dipilih kembali lagi, panggilan telephone pertama yang ia terima akan berawal dari beberapa pimpinan Iran yang minta untuk bertransaksi.

Panggilan telephone ke Trump – bila ia menang – tidak pernah berlangsung. Perundingan dengan pemerintah Trump mustahil dikerjakan untuk Iran; itu akan malu-maluin.

Di bawah Presiden Trump, sangsi AS serta peraturan desakan maksimal sudah membuat ekonomi Iran terbuncang. Trump memikat diri dari persetujuan nuklir. Tambah jelek kembali, ia memerintah pembunuhan Jenderal Qassim Sulaimani. Pembalasan sakit hati atas pembunuhan Sulaimani masih jadi jadwal penting barisan garis keras.

Dipilihnya Joe Biden membuat perundingan dengan pemerintahan AS semakin lebih gampang untuk Iran. Biden menjelaskan pengin memakai diplomasi serta kembali pada persetujuan nuklir dengan Iran.

Israel

Presiden Trump kuasai dua kutub Timur tengah. Ia usaha memberikan penghargaan serta mengkonsolidasikan sekutu regional tradisionil Amerika, sekalian menutup musuh-musuhnya di Teheran.

Presiden dipilih Biden akan berusaha untuk mengganti peraturan AS di Timur tengah, dengan pendekatan waktu ia masih memegang wakil presidennya Barack Obama: Kurangi kampanye “desakan maksimal” Trump pada Iran serta tergabung kembali lagi dengan persetujuan nuklir 2015 yang ditinggal oleh Gedung Putih 2 tahun kemarin.

Potensial itu membuat takut Israel serta beberapa negara Teluk seperti Arab Saudi serta UEA. Seorang menteri Israel menjelaskan dalam menyikapi peluang kemenangan Biden jika peraturan itu akan usai dengan “konfrontasi Israel-Iran yang kejam, sebab kami akan diminta untuk melakukan tindakan”.

Hasilnya secara menegangkan geser pendekatan AS pada perselisihan Israel-Palestina. Gagasan Trump dilihat benar-benar memberikan keuntungan Israel serta memberikannya peluang untuk mencaplok sisi Pinggir Barat yang ditempati. Itu dibatalkan untuk persetujuan monumental untuk membuat jalinan di antara Israel serta beberapa negara Arab.

Dorongan untuk “normalisasi” regional peluang tetap akan bersambung di bawah Biden, tapi ia kemungkinan coba perlambat pemasaran senjata AS yang polemis ke Teluk serta peluang akan cari semakin banyak konsesi Israel. Aneksasi saat ini nampaknya terang tidak diulas serta Biden akan berkeberatan dengan pembangunan permukiman Israel selanjutnya.

Jalan keluar dua negara akan kembali lagi digaungkan, tapi kesempatan untuk membuat beberapa perkembangan dalam proses perdamaian Israel-Palestina yang nyaris mati itu nampak tipis.

Menjelang Pemilu AS, Beberapa Pemilih Menghadapi Bermacam Gertakan

Menjelang Pemilu AS, Beberapa Pemilih Menghadapi Bermacam Gertakan, Saat pemilih Amerika siap-siap ke arah TPS untuk 3 November, teror desakan serta gertakan dibagi dengan semakin makin tambah meluas di sosial media.

Tahun ini, beberapa pemilih hadapi teror pengerahan milisi, kampanye luar tempat dekat TPS, serta blokade jalan raya oleh mobil berbendera.

Pemantau France 24 bicara dengan Wakil Presiden Eksekutif Komite Advokat untuk Hak Sipil Berdasar Hukum, Damon Hewitt, mengulas teror penting untuk penyeleksian yang adil di AS tahun ini.

Komite Advokat mengurus hotline 866-OUR-VOTE, hotline pemilih non simpatisan paling besar di AS. Menjelang Pemilu AS Semenjak Juli, mereka sudah terima lebih dari 100.000 panggilan, 2x lebih beberapa dari tahun penyeleksian awalnya. Hewitt memprediksi kenaikan ini sebab ada perombakan mekanisme penyeleksian sepanjang wabah Covid-19.

“Kami menyaksikan banyak panggilan yang terkait dengan ketidaktahuan mengenai mangkirsi atau pengambilan suara lewat surat, sebab ketentuan berbeda. Ada litigasi yang tengah berjalan oleh beberapa orang yang pengin batasi demokrasi dengan batasi seberapa banyak orang yang bisa pilih, atau apa opsi mereka untuk pilih, atau bagaimana mereka bisa memberikan surat suara mereka. Kami terima telephone mengenai peluang masalah gertakan pemilih, di mana beberapa orang yang mempunyai senapan panjang dalam tempat pengambilan suara, atau kedatangan polisi yang tidak patut dalam beberapa masalah,” terangnya.

Gertakan di Texas

Akhir minggu saat sebelum Hari Penyeleksian di AS diikuti dengan pengerahan simpatisan calon presiden petahana Donald Trump. Konvoi jalan raya nampak di beberapa kota. Menjelang Pemilu AS

Di Texas, simpatisan Trump memakai kendaraan mereka melingkari bis kampanye calon presiden Demokrat Joe Biden untuk 31 Oktober. Team kampanye Biden memberikan laporan konvoi itu coba perlambat bis serta meminggirkannya dari jalan raya. Claim ini sedang diselidik FBI.

Video konvoi dibagi semakin makin tambah meluas di dunia maya, dengan beberapa simpatisan Trump menunjuk bis itu usaha supaya kendaraan di jalan itu minggir. Untuk 1 November, jalan raya di New York and New Jersey ditutup oleh kelompok kendaraan yang dihias bendera by “Trump 2020”.

Untuk 20 Oktober, seorang polisi Miami didisiplinkan sebab kenakan masker “Trump 2020” ke TPS kenakan seragam. Saat itu, beberapa laporan gertakan ada sesudah Trump minta beberapa pendukungnya untuk memantau TPS.

Menurut Hewitt, perlakuan itu dapat berpengaruh untuk pemilih walau tidak ada langsung di seputar TPS.

“Untuk pemilih, menyaksikan kedatangan seperti itu diperjalanan ke TPS, pasti dapat mengancam. Ini membuat Anda berasa seorang memerhatikan Anda serta mereka mengidentifikasi siapa Anda. Kami sudah dengar beberapa contoh sepanjang pengambilan suara awalnya dari beberapa orang yang menjelaskan jika ada seorang di TPs yang menulis catatan mengenai tiap pergerakan mereka, bahkan bisa saja ambil photo atau record video. Serta itu, sudah pasti, membuat orang tidak tenteram, jika mereka akan terserang,” terangnya.

1 barisan milisi sayap kanan yang diketahui selaku Penjaga Sumpah sudah janji untuk “membuat perlindungan Trump” di TPS di hari pencoblosan. Di Florida, laporan simpatisan Trump membawa senjata di dekat TPS memacu kecemasan.

Barisan milisi sudah ada lama, tapi tahun ini, lebih dari beberapa tahun yang lain, kegiatan mereka sendiri bertambah berkenaan dengan penyeleksian. Menurut Hewitt, strategi gertakan pemilih semacam ini sebetulnya dapat bersimpangan dengan dampak yang diharapkan:

“Kami ketahui (di AS) jika gertakan pemilih serta pencabutan hak pemilih bukan hal baru. Ini telah berjalan lama,” terangnya.

“Sisi dari pemilih yang kemungkinan hadapi strategi gertakan adalah sisi dari pemilih yang kemungkinan sangat terpacu untuk memberi suara. Apa yang menurut kami bisa menjadi dampak dari strategi gertakan ini bukan untuk mematikan suara, tapi sebetulnya mempunyai dampak yang lain, untuk betul-betul tingkatkan keterkaitan pemilih, keterlibatan pemilih serta pemberian suara yang sebetulnya. Itu yang kami harap,” ujarnya.