Mantan Wakil Gubernur Banten Rano Karno membantah pernah menerima Suap Rp 1,5 miliar

Berita Politik terkini – Mantan Wakil Gubernur Banten Rano Karno membantah pernah menerima uang Rp 1,5 miliar dari mantan pegawai PT Bali Pasific Pragama (BPP) Ferdy Prawiradireja. PT BPP merupakan perusahaan milik Tubagus Chaeri Wardhana alias Wawan, terdakwa kasus korupsi.
“Tak pernah (terima uang dari Wawan) Pak. Tak ada,” ujar Rano Karno di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta Pusat, Senin (24/2/2020).

Baca juga: Prediksi Skor Liverpool Vs West Ham Primer Liga Memburu Sejarah

Rano mengatakan hal tersebut saat dihadirkan sebagai saksi dalam sidang dengan terdakwa Wawan. Awalnya, jaksa penuntut umum pada KPK bertanya soal perkenalan Rano Karno dengan Ferdy Prawiradireja.

“Iya, saya mendengar orang PT BPP,” kata Rano.

Kemudian, jaksa pun mempertanyakan soal pernyataan Ferdy yang sempat menyebut pernah memberikan uang Rp 1,5 miliar kepada Rano Karno sekitar tahun 2012 atau 2013. Jaksa pun bertanya kebenaran hal tersebut kepada aktor pemeran Si Doel Anak Sekolahan itu.

Rano hanya menyatakan pernah menerima bantua dari Wawan sebesar Rp 7,5 miliar untuk dana kampanye. Menurut Rano, Wawan mengeluarkan uang tersebut untuk menguasai suara masyarakat di Tangerang pada Pilkada 2011.Saat itu kakak Wawan, yakni Ratu Atut Chosiyah berpasangan dengan Rano Karno bertarung menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Banten.

“Saya enggak tahu berapa laporannya, cuma yang saya tahu Rp 7,5 miliar pak, itu ada dalam bentuk kaos, atribut, saya tahu itu sumbernya dari Pak Wawan, tapi saya enggak pernah minta ke Pak Wawan,” kata Rano Karno.

Sebelumnya, dalam persidangan dengan terdakwa Wawan, mantan pegawai PT Bali Pasific Pragama (BPP) Ferdy Prawiradireja tak membantah pernah menyerahkan uang kepada Rano Karno. Uang Rp 1,5 miliar itu diserahkan melalui ajudan Rano Karno bernama Yadi.Menurut Ferdy, penyerahan uang untuk Rano terjadi di hotel di kawasan Serang, Banten. Uang dibungkus kantong kertas diserahkan ke ajudan Rano Karno.

“Iya (Rp 1,5 miliar). (Uang dalam bentuk) rupiah. Satu kantong saja. Kantong apa namanya, yang ada di toko buku, kantong kertas gitu. Itu tahun 2012 atau 2013 ya, saya lupa,” ujar Ferdy di Pengadilan Tipikor, Kamis (20/2/2020).
Ferdy mengaku tidak mengetahui asal sumber uang itu. Namun ia menduga uang itu berasal dari kas kantor perusahaan milik Wawan yang berada di The East Kuningan Jakarta.